Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan
Selasa, 11 Februari 2014
Pelajar di China Terpaksa Bawa Meja Sendiri ke Sekolah
Sepertinya sudah menjadi hukum alam jika ada kemakmuran maka di situ juga terdapat kemiskinan. Terlepas dari masih tingginya tingkat kemiskinan di dalam negara, pengalaman yang lebih miris ternyata dialami oleh sebahagian penduduk di negara China.
Di sebalik kejayaan negara Tirai Buluh ini menyaingi hegemoni negara barat dalam bidang ekonomi dan perdagangan, namun potret suram kemiskinan masih sangat kental terlihat. Minimnya kesejahteraan penduduk di beberapa kawasan selaras dengan buruknya pendidikan yang ada.
Potret itu boleh dilihat dari Wang Ziqi, kanak-kanak perempuan berusia tiga tahun di Shunhe, Provinsi Hubei. Di saat memasuki tahun ajaran baru di sekolah, Wang tidak hanya dituntut untuk menyiapkan pelbagai keperluan sekolah berupa pensil atau buku. Lebih dari itu, Wang juga terpaksa membawa meja dan kerusi sendiri ke sekolah.
Pemandangan miris ini terjadi setiap tahun ajaran baru. Untuk membawa meja dan bangku, Wang biasanya dibantu oleh kakak dan neneknya.
Walau demikian, Wang bukanlah satu-satunya pelajar yang terpaksa membawa meja dan kerusi dari rumah. Sekurang-kurangnya ada lebih dari 3 ribu pelajar lain di sekolah rendah dan sekolah menengah di Shunhe yang dipaksa membawa mejanya sendiri. Keadaan itu berlaku kerana keterbatasan kemudahan yang diberikan kerajaan. Mereka hanya menyediakan sekitar 2 ribu pasang kerusi dan meja. Padahal ada lebih dari 2 ribu pelajar yang bersekolah.
Di sebalik kejayaan negara Tirai Buluh ini menyaingi hegemoni negara barat dalam bidang ekonomi dan perdagangan, namun potret suram kemiskinan masih sangat kental terlihat. Minimnya kesejahteraan penduduk di beberapa kawasan selaras dengan buruknya pendidikan yang ada.
Potret itu boleh dilihat dari Wang Ziqi, kanak-kanak perempuan berusia tiga tahun di Shunhe, Provinsi Hubei. Di saat memasuki tahun ajaran baru di sekolah, Wang tidak hanya dituntut untuk menyiapkan pelbagai keperluan sekolah berupa pensil atau buku. Lebih dari itu, Wang juga terpaksa membawa meja dan kerusi sendiri ke sekolah.
Pemandangan miris ini terjadi setiap tahun ajaran baru. Untuk membawa meja dan bangku, Wang biasanya dibantu oleh kakak dan neneknya.
Walau demikian, Wang bukanlah satu-satunya pelajar yang terpaksa membawa meja dan kerusi dari rumah. Sekurang-kurangnya ada lebih dari 3 ribu pelajar lain di sekolah rendah dan sekolah menengah di Shunhe yang dipaksa membawa mejanya sendiri. Keadaan itu berlaku kerana keterbatasan kemudahan yang diberikan kerajaan. Mereka hanya menyediakan sekitar 2 ribu pasang kerusi dan meja. Padahal ada lebih dari 2 ribu pelajar yang bersekolah.


Di bandar miskin tersebut, para orang tua murid terpaksa menggunakan apa sahaja yang mereka boleh gunakan, termasuk membawa meja kopi ke sekolah agar anak-anak mereka dapat belajar.
Saat diminta komen, banyak orang tua yang mengeluh. Mereka menyalahkan sistem pemerintahan yang dianggap sangat korup.
"Kerajaan pusat memberikan dana untuk kemudahan sekolah," kata seorang wali murid kepada stesen berita NBC. "Tapi apabila sampai ke tempat kami, wang itu menghilang."
Meski kerajaan tempatan di sana sudah bertindak balas dengan memberikan tambahan meja dan komited akan memberikan bantuan lebih dari US $ 600.000 untuk menutup defisit anggaran, namun banyak dari penduduk yang tetap tidak percaya dengan janji-janji tersebut.
"Saya lebih suka percaya ada hantu di dunia ini daripada mempercayai janji-janji kerajaan," tulis salah satu kometar pada berita Changjiang Times
Berkaca dari kes ini, kita hanya boleh mengharapkan kerajaan Malaysia tidak melakukan hal yang sama kerana mewariskan kecerdasan dan ilmu bagi generasi muda lebih berharga daripada mewariskan harta semata.
Sumber - Berita-Saya
Kamis, 06 Februari 2014
Kerana terlalu pintar kanak kanak ini dibuang sekolah
23 Nov 2013
Selengkapnya...
Rizki
AGAM- Seorang kanak-kanak lelaki di Kabupaten Agam, Sumatera Barat berhenti sekolah kerana tingkat kecerdasannya melebihi anak-anak sebayanya.
Kanak-kanak ini, Muhammad Rizki Ramadan hanya diberi kesempatan menduduki bangku sekolah di Sekolah rendah selama enam bulan. Kecerdasan Rizki memang di atas rata-rata anak seusianya. Di usianya yang ketujuh tahun, dia sudah fasih berbahasa asing, seperti Inggeris, Malaysia, India dan Mandarin.
Menurut ayahanda Rizki, Mayunis, bahasa-bahasa yang dikuasai putera bungsunya itu dipelajari sendiri tanpa guru. “Dulu sekolahnya TK di Simpang Balai, waktu kami tinggal di Cangkiang. Sewaktu di TK aman sampai tamat. Tapi, waktu sekolah di Sekolah rendah Negeri Cangkiang itu hanya 6 bulan, kerana dia tidak mau pelajaran diulang dua kali, kalau dua kali, dia maunya keluar dari kelas saja,” kata Mayunis, Khamis (7/11/2013).
Dikatakan Mayunis, Rizki akhirnya dikeluarkan dari sekolah kerana mengganggu proses belajar mengajar. “Guru-gurunya kewalahan dengan kecerdasannya yang melebihi teman-teman sekelasnya,” katanya.
Lebih lanjut Mayunis mengungkapkan, kecerdasan Rizki sudah terlihat dari sejak dia berbicara di usia dua tahun. “Dia belajar dari buku, TV, kalau film dia tidak mau nonton, dia suka lihat berita, politik dan bola, dia kelihatan seperti ini sewaktu kecil pas pandai bicara langsung pandai membaca, lihat TV sekilas langsung dapat, dia pandai membaca begitu saja tanpa belajar atau diajarkan,” tuturnya.
Saat ini Rizki ingin kembali bersekolah. Selain karena ingin bermain bersama teman-teman sebayanya, Rizki juga merasa masih haus dengan ilmu-ilmu yang dapat dipelajari di sekolah. Namun, pihak sekolah pernah menyarankan agar Rizki berada di kelas dan sekolah dengan penanganan khusus.
Sayangnya, orangtua Rizki merasa pekerjaannya sebagai buruh tani dan ibu rumah tangga tidak akan sanggup membiayai kelangsungan pendidikan anaknya. “Saya tidak kuat jika harus memasukkan anak ke sekolah khusus apalagi untuk membayar guru privat khusus yang didatangkan ke rumah,” katanya. (Wahyu Sikumbang/Sindo TV/ugo)
Kanak-kanak ini, Muhammad Rizki Ramadan hanya diberi kesempatan menduduki bangku sekolah di Sekolah rendah selama enam bulan. Kecerdasan Rizki memang di atas rata-rata anak seusianya. Di usianya yang ketujuh tahun, dia sudah fasih berbahasa asing, seperti Inggeris, Malaysia, India dan Mandarin.
Menurut ayahanda Rizki, Mayunis, bahasa-bahasa yang dikuasai putera bungsunya itu dipelajari sendiri tanpa guru. “Dulu sekolahnya TK di Simpang Balai, waktu kami tinggal di Cangkiang. Sewaktu di TK aman sampai tamat. Tapi, waktu sekolah di Sekolah rendah Negeri Cangkiang itu hanya 6 bulan, kerana dia tidak mau pelajaran diulang dua kali, kalau dua kali, dia maunya keluar dari kelas saja,” kata Mayunis, Khamis (7/11/2013).
Dikatakan Mayunis, Rizki akhirnya dikeluarkan dari sekolah kerana mengganggu proses belajar mengajar. “Guru-gurunya kewalahan dengan kecerdasannya yang melebihi teman-teman sekelasnya,” katanya.
Lebih lanjut Mayunis mengungkapkan, kecerdasan Rizki sudah terlihat dari sejak dia berbicara di usia dua tahun. “Dia belajar dari buku, TV, kalau film dia tidak mau nonton, dia suka lihat berita, politik dan bola, dia kelihatan seperti ini sewaktu kecil pas pandai bicara langsung pandai membaca, lihat TV sekilas langsung dapat, dia pandai membaca begitu saja tanpa belajar atau diajarkan,” tuturnya.
Saat ini Rizki ingin kembali bersekolah. Selain karena ingin bermain bersama teman-teman sebayanya, Rizki juga merasa masih haus dengan ilmu-ilmu yang dapat dipelajari di sekolah. Namun, pihak sekolah pernah menyarankan agar Rizki berada di kelas dan sekolah dengan penanganan khusus.
Sayangnya, orangtua Rizki merasa pekerjaannya sebagai buruh tani dan ibu rumah tangga tidak akan sanggup membiayai kelangsungan pendidikan anaknya. “Saya tidak kuat jika harus memasukkan anak ke sekolah khusus apalagi untuk membayar guru privat khusus yang didatangkan ke rumah,” katanya. (Wahyu Sikumbang/Sindo TV/ugo)
Langganan:
Postingan (Atom)